0
Dikirim pada 28 November 2011 di Muhasabah

Sepasang suami istri telah melewati masa pernikahan itu telah selama 5 tahun lebih, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Mulailah tetangga kanan kiri , termasuk saudaranya sendiri berbisik-bisik: “ Nikah udah lama, kenapa gak bisa hamil-hamil ya? Siapa yang mandul? Istrinya atau suaminya?”. 

 

Karena seringnya mendengar gosip pahit dari tetangga kanan kiri, akhirnya sepasang suami tersebut secara diam diam melakukan pemeriksaan. Hasil lab menyebutkan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun, ini berarti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak. Mengetahui hasil pemeriksaan seperti itu, sang suami mengucapkan: "inna lillahi wa inna ilaihi raji’un"  lalu menyambungnya dengan ucapan: "Alhamdulillah". Sang suami berkata kepada sang dokter, “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong..., Anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah. Mendengar permintaan seperti itu, sang dokter menolak dan terheran-heran, "Saya tidak bisa memenuhi permintaan Anda, itu terasa sulit bagi Saya.", mendengar jawaban seperti itu, kemudian sang Suami menimpali, "Saya tidak ingin melihat istri saya murung, bersedih, lalu akhirnya merasa putus asa dengan kondisinya." Karena terus dipaksa sang suami, akhirnya dokter pun setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri. 

 

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Setelah kedua pasangan suami istri tersebut masuk ke dalam ruangan dokter, kemudian sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca kemudian berkata: “ Hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa Suami Ibu ternyata bermasalah, sementara Ibu sendiri sama sekali tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagi suami Ibu untuk sembuh."  Mendengar perkataan sang dokter, sang suami berkata, " inna lillahi wa inna ilaihi raji’un" terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada takdir Allah SWT. Lima tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri itu berusaha untuk tetap tegar & bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “ Kesabaranku sudah habis, 10 Tahun aku menjalani hidup bersamamu, aku tahan kesabaranku dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata betapa baik dan shalihahnya aku yang terus setia mendampingi kamu selama 10 tahun, semua orang tahu...kamu itu mandul!!! Aku ingin agar kamu segera menceraikan aku, agar aku bisa secepatnya menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga aku bisa melihat anak anakku, merawat dan membesarkan mereka dengan penuh kasih sayang". 

 

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, janganlah kamu mengeluarkan perkataan yang tidak semestinya ingin aku dengar”. Mendengar jawaban suaminya seperti itu, bukannya sang istri berhenti marah, tapi justru sebaliknya...sang istri malah terus-terusan memberi ceramah di depan suaminya sendiri. Kemudian sang istripun berkata kepada suaminya,  “Capek aku hidup seperti ini, aku beri kamu waktu satu tahun lagi. Jika tidak ada perubahan, maka aku akan meminta dicerikan!”. Sang suami dengan terpaksa setuju, dalam hatinya ia berdo'a agar semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

 

Beberapa minggu kemudian sang istri jatuh dari kendaraan bermotor, seketika ia pingsan karena kepalanya membentur aspal, meski ia sudah mengenakan helm, namun rasa sakit di kepalanya tak kunjung pergi. Setelah itu, sang istripun dilarikan ke rumah sakit. Ternyata sang istri mengalami pendarahan ringan di otaknya. Berminggu-minggu, suaminya berusaha sabar menunggu istrinya yang tergolek lemah di rumah sakit. Ingatan sang istri sangat lemah, bicarapun sulit, apalagi harus berjalan kaki...ia hanya bisa membuka kedua matanya, tanpa bisa melakukan aktifitas yang lain. Lambat laun, setelah melewati masa terapi dan penyembuha, akhirnya sang istri mulai terlihat sehat dan normal. Ia pun bisa berbicar, mengingat serta berjalan dengan kakinya sendiri. Kemudian, sang suami memboyong kembali istrinya ke rumah karena kesehatannya sudah pulih, sesampainya dirumah...sang istri berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku..andai saja aku tidak banyak memikirkan masalah berat seperti ini, aku tidak mungkin mengalami kecelakaan fatal, berhari-hari aku selalu memikirkan masalah itu terus, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan aku saja?  Aku kan ingin punya anak, ingin memomong dan menimang bayi.”. Mendengar istrinya berkata seperti itu, suaminya hanya bisa berkata, " Maafkan aku bu, sebaiknya kita berdoa dengan lebih tekun lagi. Semoga Allah sudi memberikan kita momongan".

 

Hari terus berganti, kelakuan sang istri tak kunjung berubah, ia semakin menjadi-jadi saja. Suatu saat, malam hari..sang suami baru saja pulang bekerja, terlihat sekali wajahnya kusam karena kecapek'an. Tanpa di sangka-sangka, istrinya marah sama suaminya, " Kamu dari mana saja? Malam seperti ini kamu baru pulang ke rumah, kamu cari selingkuhan diluar sana? Kamu itu bisa mengerti keadaan aku tidak sih? Sudahlah, besok pagi segera urus surat perceraian saja. Aku sudah muak melihat kamu!". Selesai istrinya marah dengan suaminya, tiba tiba saja istrinya merasakan sakit yang amat luar biasa pada perutnya. Perlahan lahan ia tak mampu berdiri tegak, menunduk...lalu terlihat terhuyung dan hampir saja ia jatuh di lantai, namun...dengan sigap dan cekatan, suaminya bisa meraih tubuh istrinya agar tidak jatuh di lantai.

 

Setelah dilarikan ke rumah sakit, hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal. Suatu ketika, disaat istrinya tergolek lemah di rumah sakit, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf bu', aku harus meninggalkan ibu sementara waktu di rumah sakit sendirian, aku ingin pergi keluar kota, secepatnya setelah urusanku selesai, aku akan menjemput ibu, dan aku berharap semoga ibu baik-baik saja”. “Haah, pergi?”. Kata sang istri. “Ya, aku akan pergi sebentar, sekalian mencari donatur ginjal, semoga aku bisa mendapatkan donor ginjal untuk ibu” kata sang suami.

 

Sehari sebelum operasi, sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam hatinya “Suami apa an tuh dia itu, istrinya sakit berat seperti ini, mau operasi, eh dia malah pergi cari selingkuhan..dengan alasan ingin mencarikan aku donor ginjal. ” Operasi pun berhasil dengan baik dan lancar. Setelah beberapa minggu usai operasi, suaminya datang ke kamar perawatan istrinya, tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan seperti orang habis bekerja tanpa mengenal lelah. Setelah itu, sang suami langsung memboyong istrinya pulang ke rumah, karena hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa sang istri telah dinyatakan sembuh.

 

Suatu ketika, sang isrti merasakan gejala aneh...layaknya gejala seorang ibu yag sedang hamil. Karena penasaran, ia datang ke dokter yang telah ia kunjungi sebelumnya, yakni dokter ahli kandungan yang memvonis bahwa suaminya telah mandul. Setelah diperiksa, dokterpun berkata, " Selamat bu, ibu dinyatakan telah hamil " Mendengar ucapan dokter, sontak saja...sang istri langsung berusaha bangkit berdiri dari kursinya..terlihat jelas bahwa dia sedang meneteskan air mata tanpa bisa dia tahan, lalu ia berkata "Apa dok? Saya hamil?????????????????", "iya, ibu telah hamil muda". Sedih bercampur bahagia, sang istri pun langsung pulang dan segera menelpon suaminya agar cepat pulang ke rumah. Adalah kebahagiaan tiada tara bagi sang istri ketika mengetahui bahwa dia sedang hamil muda. Keluarga mereka pun akhirnya normal kembali, makian dan omelan sang istri kepada suaminya tidak terdengar lagi seperti dulu.

 

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa membawa laptop pribadinya yang masih tergeletak di atas meja. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan file yang berisi tentang diary sang suaminya tersebut, ia membacanya dengan sangat teliti. Hampir saja ia terjatuh pingsan saat mengetahui tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis dengan histeris. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya melalui telpon, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula. 

 

Dan setelah peristiwa tersebut, sang istri selalu menundukkan wajahnya di depan suaminya. Jika tidak atas perintah dari suaminya, ia tetap saja menundukkan kepalanya, tidak ada kekuatan untuk memandang suaminya sama sekali.

 

Dari berbagi sumber



Dikirim pada 28 November 2011 di Muhasabah
comments powered by Disqus
Profile

Aku ingin punya teman sebanyak-banyaknya, syukur-syukur ada peluang bisnis... Dengan silaturahmi bisa menambah rizki dan memperpanjang usia. More About me

Page
Mohon di Klik :
    Begin: http://adsensecamp.com/ End: http://adsensecamp.com/
Gabung yuk...
    Adsense Indonesia
Lencana Facebook
Mohon di Klik
Blog Satunya...
    Photobucket
YM1
YM2
whos.amung
Statistik
    Blog ini telah dikunjungi sebanyak : 127.785 kali


connect with ABATASA